Guilty

Guilty

Judul      : Guilty

Author   : F.Z

Length   : Oneshot

Genre     : Romance

Cast        : Yoo Jiae, Kim Ravi, Lee Seongyeol, Lee Mijoo, Shin Hana

guilty-jiae-ravi-seongyeol

“Maaf, Jiae…”

Jiae tidak tahu harus seperti apa menanggapi kata-kata Ravi yang terus terngiang di telinganya. Sudah dua hari dia dengar kata-kata itu tapi dia tetap memikirkannya.

“Jiae?”

“U- uh? Ya?” Jiae baru sadar dia tidak sedang sendirian. Dia bersama seseorang. Seseorang yang lain dari yang ada di pikirannya saat ini.

“Seperti ada yang kau pikirkan belakangan ini? Ada apa?” tanya Seongyeol, ya pemuda itu bernama Seongyeol. Pemuda itu berada satu tingkat di atas Jiae.

Jiae menggeleng. “Tidak ada, oppa.”

“Benarkah?” kali ini Jiae mengangguk dan Seongyeol tidak berani bertanya lagi.

“Jiae!” seseorang memanggilnya, itu Mijoo, teman sekelas Jiae.

“Mau menemuinya?” tanya Seongyeol, Jiae menatapnya.

“Tidak apa-apa?” Seongyeol terkekeh sambil mengacak rambutnya.

“Aku harus mengambil beberapa buku di perpustakaan sebelum masuk kelas.”

Jiae nyengir, sambil menggaruk kepalanya yang tentu saja tidak gatal. “Oke, aku kesana ya?”

“Nanti pulang bersama?” Jiae mengangguk lalu melambaikan tangan dan setengah berlari ke arah Mijoo.

Sampai di dekat Mijoo, Jiae langsung disambut dengan wajah Mijoo yang menunggu jawaban tanpa bertanya.

“Dia menyatakan perasaannya seminggu yang lalu, aku belum sempat bercerita padamu karna kau juga baru saja masuk kemarin kan?”

Mijoo menggeleng. “Bukan itu, Ravi bagaimana?”

Mendapat pertanyaan seperti itu Jiae langsung menghela nafas panjang. Tidak mau menjawab saat itu juga, Jiae hanya berjalan keluar kafetaria di sekolah mereka.

“Yoo Jiae, jangan menghindari pertanyaanku.”

Jiae tidak menghiraukan Mijoo, perkataan Ravi saja masih terngiang di pikirannya sekarang dia harus menjelaskan semuanya pada Mijoo.

“Jiae, aku tanya bagaimana hubunganmu dengan Ravi? Kalian—“

“Belum putus, dan aku masih sangat mencintainya.”

Mijoo mendengus kesal mendengar Jiae memotong kata-katanya. “Lalu Seongyeol sunbae?”

Jiae menggeleng kali ini, dia menghela nafas berat. “Entahlah.”

Mijoo bingung dengan ekspresi Jiae, dan memutuskan untuk tidak mendesak temannya ini karena dia merasa Jiae sedang tidak ingin bicara banyak. Jiae dan Ravi sudah hampir 4 tahun menjalin hubungan. Di awal mereka bersama, semuanya terasa mudah dan indah. Mereka berdua merupakan pasangan paling serasi di sekolah. Banyak orang yang iri pada mereka, dan banyak pula yang tidak segan menyatakan bahwa Jiae dan Ravi itu pasangan favorit mereka. Namun, keadaan berubah saat Ravi harus pindah sekolah ke kota lain. Ya, di tahun keduanya Ravi harus pindah ke Busan. Awalnya Jiae ragu dengan hubungan jarak jauh namun Ravi berjanji padanya akan menyempatkan pulang sekali-kali ke Seoul untuk bertemu Jiae. Hal itu hanya bertahan tiga bulan pertama setelah kepindahan Ravi. Ya, Ravi datang setiap akhir minggu. Namun karena kesibukannya di sekolah yang baru, Ravi hanya bisa ke Seoul dua minggu sekali. Jiae bukan tipe yang mau kesepian, dan di saat ada pemuda yang mendekatinya dia seakan lupa akan Ravi dan menikmati kebersamaan bersama pemuda tersebut. Tidak lain dengan Seongyeol, seniornya di sekolah ini kelihatan sudah menyukainya sejak Ravi masih bersekolah disana. Dan sekarang Seongyeol merasa bebas mendekati Jiae tanpa dia tahun bagaimana hubungan Jiae dan Ravi.

Dia juga selingkuh.

Jiae menggoyangkan pulpennya dan tulisan itu tercetak begitu saja di bukunya. Kata-kata yang disampaikan guru di hadapannya terasa seperti suara kaset yang tidak terlalu dia dengarkan. Pikirannya tidak pada kelas yang sedang ikuti. Pikirannya kembali ke dua hari yang lalu saat dia tidak sengaja membuka ponsel Ravi dan melihat beberapa foto disana.

“Siapa namanya?”

“Hana. Shin Hana.”

Jiae menghela nafas melihat foto-foto Ravi bersama seorang gadis. Dia tidak berani bertanya lebih jauh, namun dia harus mengetahui sejauh apa hubungan Ravi dengan gadis itu.

“Maaf Jiae…”

Jiae seketika terpaku. Ravi minta maaf, kekasihnya ini meminta maaf. Dia teringat Seongyeol, hubungannya dengan pemuda itu juga merupakan kesalahan. Sama seperti yang Ravi lakukan saat ini. Tanpa membalas pernyataan Ravi, Jiae berjalan keluar kafe tempat mereka bertemu.

Drrt… drrtt…

Dia merasakan ponselnya bergetar bersamaan dengan bel pulang sekolah. Di saat yang lain sibuk merapikan meja dan tasnya, tangan Jiae bergerak membuka isi pesan yang datang ke ponselnya.

남친 ❤

Aku tidak tahu kenapa hari ini semua pelajaran terasa membosankan.

Aku ingin dengar Jiae bilang tidak apa-apa. Maafkan aku.

Jiae menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi yang dia duduki. “Aku harus bagaimana?” gumamnya frustasi.

“Kalian bertengkar?” Mijoo tiba-tiba duduk di samping Jiae dan mengintip isi pesan dari Ravi tersebut.

“Lee Mijoo! Kau membaca pesanku!?”

“Oh come on, Jiae. Kenapa harus menutupinya dariku?”

Akhirnya setelah beberapa menit terdiam Jiae menceritakan semuanya pada Mijoo, dan perlahan airmata Jiae mengalir tanpa bisa dia cegah.

“Jadi, Seongyeol sunbae ini balas dendammu?” Jiae menggeleng cepat.

“Entah siapa yang duluan, tapi yang jelas kami sama-sama berselingkuh.”

Mijoo menghela nafas berat. “Kalian dulu pasangan yang membuat semua orang iri.”

“Mijoo-ya, apa yang harus kulakukan?” Jiae menunduk di mejanya, bahunya bergerak naik turun.

“Jiae, Seongyeol sunbae ada di depan kelasnya dan menuju kesini.”

Jiae buru-buru menghapus airmatanya. Tidak, dia tidak ingin terlihat menangis di depan orang lain selain Mijoo dan tentu saja Ravi.

“Jiae? Jadi pulang bersama? Oh hai Mijoo!” Seongyeol tersenyum dan berdiri di ambang pintu kelas Jiae dan Mijoo.

“Hai, sunbae! Tidak apa-apa, kalian pulang bersama saja. Aku sebentar lagi dijemput driverku.”Mijoo nyengir sambil berjalan keluar kelas, meninggalkan Jiae yang terlihat sibuk dengan tasnya sesaat lalu setengah berlari menghampiri Seongyeol.

“Kalian terlihat serius sekali tadi?” Seongyeol menatap Jiae yang sekarang menguncir kembali rambutnya yang agak berantakan. Yang di tatapnya pun tersenyum.

“Serius? Kami membicarakan hal-hal yang tidak kami bicarakan selama seminggu dia tidak masuk sekolah.” Jiae terkekeh.

“Ah iya, aku ingat kau bercerita kalau Mijoo itu izin untuk menemani kakaknya berobat ke luar negri selama seminggu.”

“Ya, oppa benar~” Jiae tersenyum tipis, lalu Seongyeol menggandeng tangan Jiae dan berjalan menyusuri koridor sekolah lalu ke arah area parkir motor.

***

Ravi semakin sibuk, Jiae diberitahu kalau sekarang kekasihnya itu menjadi ketua organisasi sekolahnya disana. Dua minggu sudah Ravi tidak ke Seoul, tidak menemui Jiae. Dan Jiae? Dia bersikap seolah dia baik-baik saja dengan hal itu. Karena ada Seongyeol di sampingnya, ada Seongyeol yang mengisi hari-harinya di saat Ravi tidak ada.

“Jiae-ya…” panggil Seongyeol siang itu ketika mereka sedang berjalan bersama menuju salah satu restoran di kawasan Myeongdong.

“Ya oppa?”

Seongyeol menghela nafas sesaat lalu berbalik badan, menghadap Jiae dan menatap gadis di hadapannya.

“Wae oppa?” Jiae menatap Seongyeol bingung.

Tanpa dia duga, Seongyeol menyentuh tengkuknya lalu mendaratkan kecupan di bibir Jiae. Sang pemilik bibir langsung membulatkan matanya cukup lebar, terkejut tentu saja.

“Aku ini pacarmu kan?” tanya Seongyeol setelahnya, Jiae sekarang ini bagaikan patung, tidak bergerak dan tidak berbicara sama sekali.

Lalu Ravi?

Suara hatinya berbicara, dia tidak pernah bisa mengabaikan fakta bahwa dia masih berpacaran dengan Ravi dan dia memang tidak pernah menjawab pertanyaan Seongyeol saat pemuda itu menyatakan perasaannya.

“Jiae, aku mencintaimu. Aku tahu kau masih berpacaran dengan Ravi, aku sering melihat kalian berdua saat Ravi datang ke Seoul.”

Jiae spontan menutup mulutnya, lagi-lagi dibuat terkejut Seongyeol hari ini. “Jadi kau tahu?”

“Kau pikir aku sepolos itu Jiae? Aku tahu. Dan aku cukup sering mendengar kau membicarakan Ravi bersama Mijoo.”

Lalu kenapa dia tetap mendekatiku?

“Aku tidak peduli yang lain, aku hanya senang saat melihat senyuman di bibirmu yang indah itu. Aku senang melihat itu saat kita bersama. Jadi aku mengabaikan kenyataan bahwa kau masih miliknya.”

Jiae merasa hatinya sakit mendengar kata-kata Seongyeol. Entah kenapa dia merasa ini sangat salah. Meskipun dia tau Ravi disana juga dekat dengan gadis lain, tapi tidak seharusnya Jiae melanjutkan untuk tetap bersama Seongyeol. Jiae seketika menggeleng, berjalan mundur perlahan lalu berlari menjauhi Seongyeol tanpa mengatakan apapun. Dia berlari ke arah subway dan membeli tiket ke Busan. Ya, Jiae harus menemui Ravi saat ini juga. Jiae harus meluruskan semuanya, Jiae memang merasa nyaman dengan Seongyeol tapi hatinya milik Ravi.

Aku mencintai Ravi, aku sangat mencintai Ravi. Entah kenapa aku tidak bisa menjaga hatiku untuk Ravi. Hubungan ini sudah cukup sulit kenapa aku harus menambahkan masalah. Tapi— tapi Ravi juga tidak bisa menjaga hatinya. Apa yang harus aku lakukan?

Pikiran itu terus memenuhi kepala Jiae di perjalanannya menuju Busan. Dia menatap kosong keluar jalanan, dibiarkannya airmata itu membasahi pipinya.

“Uh unnie?” yang menyambutnya adalah Jiwon, adik Ravi, saat Jiae menekan pintu bel rumah yang tidak terlalu besar di pinggir jalanan Busan.

“Oppa—“ Jiwon terlihat ragu, Jiae mengerutkan keningnya.

“Biarkan aku masuk dulu, bagaimana?” Jiae akhirnya terkekeh, Jiwon pun ikut terkekeh dan membiarkan Jiae masuk.

“Unnie kenapa tidak bilang kalau mau kesini?” tanya Jiwon sambil berjalan ke dapur untuk membuatkan Jiae minuman.

Jiae hanya tersenyum tipis. “Aku juga tidak memberitahu diriku kalau aku akan kesini.”

“Unnie ada-ada saja. Ada apa tiba-tiba kesini?” tanya Jiwon sambil meletakkan satu gelas jus jeruk di hadapan Jiae.

“Tadi kau ingin memberitahuku soal oppamu?” Jiae malah bertanya balik.

“Oh—“ lagi-lagi Jiwon terlihat ragu. “Oppa—“

“Pergi bersama Hana?” mata Jiwon membulat, terkejut oleh pertanyaan Jiae.

“Unnie sudah tahu??!”

Jiae lagi-lagi tersenyum tipis. “Mereka sedekat apa?”

“Unnie, aku mau tanya. Unnie dan oppa sudah—“

Jiae menggeleng pelan. “Belum, kami masih berstatus kekasih.”

“Unnie, maaf aku tidak bisa menjawab pertanyaan unnie. Aku pun tidak tahu apa-apa tentang Hana unnie.”

Jiae menghela nafas berat saat mendengar kata-kata Jiwon. Dia hanya diam untuk beberapa saat, tiba-tiba dia merasa sedikit pusing. Jiae memijat peiipisnya sesaat, perjalanan dari Seoul ke Busan mungkin membuatnya lelah, pikirnya. Dan dengan bodohnya Jiae belum makan apa-apa karena sebelum adegan di Myeongdong itu Jiae sebenarnya ingin makan bersama Seongyeol.

“Unnie? Unnie tidak apa-apa?” Jiae menggeleng, dia memijit pelipisnya lagi dan pandangannya menjadi sedikit kabur.

“Aku pulang saja kalau begitu, Jiwonnie.”

“Unnie yakin? Unnie baru saja tiba, dan Seoul itu jaraknya lumayan dari sini.”

“Jiwon, aku bahkan belum bilang apa-apa ke orang tuaku. Aku yakin mereka mencariku saat ini.”

“Unnie bisa memberitahu mereka lewat telepon?”

Jiae lagi-lagi menggeleng. Dia tidak ingin ada disini, itulah yang ada di pikirannya saat ini. Dia tidak sanggup bertemu Ravi hari ini setelah mengetahui bahwa hubungan Ravi dan gadis itu bahkan sama dengan hubungannya dengan Seongyeol. Jiwon tidak bisa mencegah Jiae, setengah berlari Jiwon mengambil roti dari lemarinya di dapur.

“Makanlah unnie, kau terlihat pucat.” Jiae terkekeh pelan, lalu memasukkan roti itu ke dalma tasnya.

“Nanti aku makan di jalan, gomawo Jiwonie.” Ucapnya sambil berjalan keluar rumah keluarga kekasihnya ini, melambai ke arah Jiwon yang masih di dalam rumah.

“Sudahlah…” gumam Jiae sambil menutup gerbang rumah itu, dan saat itu juga dia seperti mendengar suara kekasihnya.

Ravi disana, berjalan bergandengan tangan dengan Hana dan sesekali tertawa bersama. Hati Jiae sakit melihatnya, sangat sakit. Ravi tertawa bersama gadis lain, dan itu bukan dirinya. Belum selesai rasa terkejutnya, tiba-tiba Jiae melihat sebuah kecupan mendarat di pipi sang gadis. Ravi, mencium gadis lain, di hadapannya. Jiae menghapus airmatanya cepat dan dengan cepat juga berbalik sebelum Ravi melihatnya. Jiae berjalan menjauhi tempat tersebut, dan terus berusaha menghapus airmata yang terus mengalir dari matanya. Perutnya terasa sakit, dia merasa pusing namun semuanya kalah oleh rasa sakit hatinya. Sangat sakit, Jiae tidak mempedulikan keadaannya lagi, dia hanya ingin pulang dan menangis sepuasnya di kamarnya. Namun Jiae tidak sekuat itu, sesampainya di depan stasiun subway, gadis itu jatuh pingsan.

***

Ravi POV

Aku termenung sesaat setelah mendengar Jiwon memberitahuku sesuatu. Sesuatu yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.

“Tapi tadi wajah unnie pucat, oppa.”

“Kenapa kau biarkan dia pulang?”

“Dia memaksa ingin pulang, oppa. Padahal dia baru saja sampai, aku tidak tega melihatnya.”

Aku menghela nafas berat, kenapa hari ini aku harus keluar bersama Hana disaat kekasihku mendatangiku kesini? Aku memang penat belakangan ini, makanya aku meminta Hana untuk menemaniku jalan-jalan namun aku tidak menyangka Jiae akan datang. Sekarang aku hanya bisa menyesal karena tidak sempat menemui Jiae. Tiba-tiba ponselku bergetar saat aku ingin masuk ke kamarku. Aku buka pesan yang masuk di ponselku, itu dari Jiae namun kenapa aku tidak mengenal gaya menulisnya?

Aku sedikit kecewa denganmu, Ravi.

Hanya sesingkat itu namun membuatku gelisah. Apa maksudnya? Entah kenapa aku percaya ini bukan Jiae. Aku hafal cara menulisnya, dan ini bukan kekasihku.

Kau hari ini di Busan? Kenapa tidak memberitahuku terlebih dahulu? Kau dimana sekarang Ji?

Namun aku tetap membalas pesannya, aku sedikit teringat kata-kata Jiwon tadi. Wajah Jiae pucat katanya, semoga tidak terjadi apa-apa dengannya.

Ini aku, Mijoo. Jiae sekarang di rumah sakit.

Mataku membulat sempurna melihat sebaris tulisan di ponselku. Aku langsung melonjak dan setengah berlari keluar rumah. Tidak kuhiraukan Jiwon yang memanggilku, dan bertanya aku ingin kemana. Aku berlari, menuju rumah sakit terdekat. Semoga Jiae disana.

“Jiae, jangan sakit.” Gumamku.

Aku sampai di rumah sakit dalam waktu lima belas menit, sampai disana aku langsung mencari dimana Jiae berada namun yang kudapati seorang pemuda sedang duduk di samping Jiae dan mengelus rambutnya. Seorang pemuda lain sedang bersama kekasihku. Disana ada Mijoo, namun ketiganya tidak menyadari kehadiranku disini. Aku menghela nafas, dadaku sedikit terasa sakit. Apa Jiae membalasku? Ini sungguh salah, sangat salah.

Normal POV

Jiae tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Seongyeol. Dia bukan tidak mau menjawab namun dia bingung apa yang harus dikatakan. Dirinya tidak tahu harus bagaimana menghadapi semua ini.

“Kalau kau sudah merasa lebih baik, kita pulang ke Seoul bersama-sama.” Ujar Seongyeol, Jiae hanya mengangguk.

“Jiae, kenapa sih kau nekat kesini?” kali ini Mijoo yang akhirnya bertanya.

Jiae tidak menjawab, sama seperti saat Seongyeol bertanya padanya. Jiae masih memikirkan adegan yang dilihatnya tadi di depan rumah Ravi. Dia melihat kekasihnya mencium gadis lain. Mencium. Tiba-tiba dia menoleh ke arah Seongyeol dan langsung teringat bahwa dia juga telah dicium pemuda lain.

“Istirahatlah Jiae, jangan terus memikirkan hal-hal yang tidak penting.” Ujar Mijoo sambil sedikit mendorong Jiae agar berbaring lagi. Jiae tidak melakukan perlawanan, menarik selimutnya dan memejamkan mata membelakangi Mijoo dan Seongyeol.

***

“Kalau aku ada di posisi kekasihmu, aku berharap kau datang padaku dan mengeluarkan segala amarahmu padaku.” Ujar Seongyeol, sambil mengenggam tangan Jiae dan mengelus punggung tangannya.

Jiae sudah menceritakan semuanya pada Seongyeol. Dan itulah yang Seongyeol katakan, Jiae hanya tertegun.

“Tapi oppa, aku juga punya salah disini.”

“Kalian berdua sama-sama punya kesalahan yang seharusnya kalian bicarakan baik-baik. Bukan terus-terusan seperti ini.”

Jiae menghela nafas. “Jiae, kau tahu aku sayang padamu kan?” lanjut Seongyeol.

“Eung.” Jawab Jiae singkat, ditundukkannya kepalanya, tidak berani menatap Seongyeol.

“Datanglah padanya, minta penjelasan kenapa dia bersama gadis lain. Dan jelaskan juga kenapa kau bersama pemuda lain. Kalian sebenarnya hanya merasa kesepian.”

Jiae lagi-lagi hanya tertegun, Seongyeol melepaskan genggamannya. “Kau miliknya, Jiae. Aku tahu aku tidak akan bisa merebutmu darinya.”

“Oppa…” suaranya tercekat.

“Aku akan bahagia saat melihat kalian bersama-sama lagi. Dan tidak saling menyakiti.”

Jiae tidak percaya apa yang didengarnya hari ini. Jiae sempat merasa Seongyeol ini egois, dan hanya ingin Jiae berpisah dengan Ravi kemudian sepenuhnya jadi milik pemuda itu. Namun Jiae salah, Seongyeol menyayanginya sampai taraf dia mau melepaskan Jiae asal Jiae bahagia.

“Ssst, jangan menangis.” Jiae mendapati jari Seongyeol mengusap pipinya, menghapus airmata yang membasahi pipinya.

Jiae malah semakin menangis, ini pertama kalinya dia menangis di depan orang lain selain Mijoo dan kekasihnya. Jiae menumpahkan segala yang dia rasakan lewat airmatanya. Jiae baru bisa tenang setengah jam kemudian, Seongyeol mengajaknya keluar penginapan mereka di Busan. Ya, mereka masih di Busan setelah Jiae pulih. Mereka memutuskan untuk menghabiskan waktu libur sekolah mereka di kota ini, hanya mereka berdua, Mijoo sudah kembali ke Seoul.

“Aku temani menemui Ravi?” Jiae menoleh, menatap Seongyeol sesaat dengan pandangan ‘tidak apa-apa?’ dan Seongyeol terkekeh.

“Tidak apa-apa, sungguh.”

Jiae akhirnya hanya mengangguk lalu mereka berdua menaiki bus menuju tempat tinggal Ravi. Seongyeol hanya mengantar Jiae sampai gadis itu turun dari bus.

“Jiae-ya…” panggil Seongyeol sambil mengelus rambut Jiae dan menepuk pundaknya.

“Mulai saat ini, kau adikku.” Lanjutnya sambil mengacak poni Jiae dan terkekeh.

Jiae tidak bisa berkata apa-apa, hanya tersenyum tipis dan memeluk Seongyeol sesaat. Dirinya mendapatkan kasih sayang yang sebesar ini dari pemuda tinggi di hadapannya.

“Gomawo, oppa…”

Sekilas Seongyeol tersenyum, sedetik kemudian membalikkan badannya dan kembali masuk ke dalam bus. Jiae berdiri tertegun di halte bus untuk beberapa detik sebelum akhirnya dia berjalan ke rumah Ravi. Kekasihnya itu terlihat sedang duduk di teras, termenung dan tidak sadar Jiae sudah membuka gerbang dan masuk. Melihat itu, Jiae hanya berdiri di tempatnya, tidak tahu harus menghampiri kekasihnya atau tidak.

“Kim Wonshik…” akhirnya digumamkannya nama lengkap pemuda itu.

“Jiae?” akhirnya yang dipanggil pun sadar akan kehadiran gadis berambut hitam tersebut.

“Kau masih—“

“Iya aku masih di Busan.”

Ravi berdiri, mengisyaratkan Jiae untuk masuk ke dalam rumahnya. Jiae hanya mengikuti Ravi tanpa berkata apa-apa.

“Jiwon tidak di rumah, dan kau tahu sejak dulu orang tuaku jarang di rumah siang hari begini.” Jiae hanya duduk, tidak membalas kata-kata Ravi.

“Tidak keluar bersama Hana?” pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Jiae, membuat Ravi terdiam untuk beberapa saat.

“Kau kesini untuk menanyakan hal itu?”

“Ya, aku jauh-jauh dari Seoul kesini untuk mendapatkan penjelasan tentang gadis itu.”

“Lalu, apa aku akan mendapatkan penjelasan soal pemuda tinggi itu?”

Jiae tersentak. Dia tidak menyangka akan mendengar hal itu dari mulut Ravi. Dia sudah tahu soal Seongyeol oppa.

“Dia senior di sekolah kan? Apa-apaan Ji? Kau membalasku karena aku bersama Hana?”

Jiae menggeleng, tidak berani menjawab apapun. Tidak, ini bukan balas dendam. Jiae melakukannya lebih dulu, itu yang Jiae tahu.

“Dia bisa membuatmu bahagia, Ji? Tidak membuatmu merasa kesepian?”

Jiae lagi-lagi tidak menjawab, hanya mengigit bibirnya untuk mencegah airmatanya keluar. Ravi menatapnya tajam saat ini dan Jiae tidak berani membalas tatapan tersebut.

“Pulanglah bersamanya ke Seoul dan jalani kehidupanmu disana.”

“Lalu, kau disini bisa menjalani semuanya dengan Hana?” tiba-tiba Jiae menjadi ketus setelah mendengar kata-kata Ravi.

“Aku mencintaimu Yoo Jiae.” Ucap Ravi pelan. “Aku mencintaimu! Tidak bisakah kau lihat itu? Aku hanya mencintaimu!” Jiae tersentak ketika mendengar nada tinggi dari Ravi, dan sangat terkejut ketika dirinya ditarik dan didorong ke dinding. Punggungnya menabrak dinding, dia terpekik.

“Aku hanya ingin Yoo Jiae, aku hanya inginkan dirimu.” Dengan kasar ditariknya tangan Jiae, dipegangnya tengkuk gadis itu dan sebuah ciuman mendarat di bibir Jiae.

“Hmmph—“ airmata Jiae mengalir, gadis itu berusaha mendorong Ravi. Dirinya sangat kacau saat ini dan ciuman ini terasa salah, Jiae merasa takut.

“Saranghae, neo baboya.” Ravi tidak menyerah, dia menekan Jiae ke dinding, diciumnya kekasihnya itu dengan cukup kasar.

Satu dorongan, Ravi terjatuh di lantai dan menatap Jiae yang terlihat menangis tersedu-sedu sekarang. Bukan pertama kalinya mereka berciuman, namun Ravi tidak pernah sekasar ini padanya, Ravi tidak pernah mencium Jiae sekasar ini. Jiae duduk memeluk lututnya, airmatanya mengalir deras, dia terisak.

“Maafkan aku.” Ravi menghampiri Jiae, duduk berlutut di hadapan gadis yang disayanginya ini.

“Jiae, maafkan aku.” Ulangnya, namun Jiae tidak menjawab, hanya isakan yang terdengar.

“Kumohon, maafkan aku.” Kali ini ditariknya Jiae perlahan ke dalam pelukannya, mengelus rambutnya dengan lembut dan Jiae tidak melakukan perlawanan apapun.

***

Jiae terkekeh geli saat melihat kejadian tak jauh dari tempat duduknya di kafe. Pemuda disampingnya mengacak rambutnya gemas.

“Jangan ditertawakan, sayang.”

Jiae menggeleng, masih tersisa tawanya namun dia sudah bisa mengontrolnya. “Mereka mengingatkanku, akan sesuatu.”

“Shussh. Jangan samakan mereka dengan apa yang kita alami dulu.”

Jiae hanya tersenyum mendengar kata-kata Ravi. Adegan di hadapannya, sang gadis menampar wajah pemuda yang sedang bersama gadis lain di kafe tersebut. Pemuda itu selingkuh dan kekasihnya memergokinya. Jiae menggeleng-gelengkan kepalanya saat mengingat apa yang terjadi padanya dan Ravi satu tahun yang lalu.

“Bukankah ada yang ingin kau sampaikan padaku, sayang?” tanya Jiae sambil menatap Ravi.

“Ah iya, aku hampir lupa.” Ravi terkekeh. “Ini…” lanjutnya sambil menyerahkan secari kertas pada Jiae.

“OH! Tunggu sebentar—“ Jiae menatap barisan tulisan di kertas tersebut tidak percaya.

“KAU DITERIMA DI KAMPUS YANG SAMA DENGANKU??!” Jiae tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya dan setengah berteriak, Ravi hanya terkekeh.

“Jadi kau akan kembali pindah ke Seoul!??” Jiae tersenyum lebar, sangat lebar.

“No more long distance relationship, Jiae-ya.”

Jiae sangat senang mendengarnya, sangat senang. Akhirnya dia tidak perlu lagi mencari kesenangan dari orang lain, dan memang sejak kejadian itu Jiae lebih memilih melakukan hobinya disaat dia merasa kesepian. Dan Ravi, seperti kata Jiwon, tidak pernah terlihat bersama Hana lagi. Jiae percaya hal itu, karena Jiwon masuk ke sekolah yang sama dengan kakak laki-lakinya. Ravi menghabiskan waktu bersama teman-temannya saat dia merasa kesepian. Dan setelah ini akhirnya keduanya tidak melakukan hal yang salah lagi, mereka sudah berjanji tidak mengulangi kesalahan lagi, mereka hanya perlu belajar untuk lebih setia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s