Would You… Marry Me?

Would You… Marry Me?

marry-me-poster copy

Cast : Lee Donghae | Kim Jongyoon

Length : Oneshot

Genre : Romance

“Kau percaya kata-katanya di sebuah acara? Di depan semua orang?” kata-kata itu seakan menyadarkan Jongyoon akan sebuah fakta. Sebuah fakta yang tertutup darinya selama dua tahun.

“Jongyoon-ah, come on. Acara seperti itu punya skrip.” Jongyoon menghela nafas berat, ya, dia baru sadar hari ini, dia bodoh.

Gadis itu membiarkan pikirannya melayang ke dua tahun yang lalu, saat dia tersenyum lebar ketika menyaksikan sebuah acara TV.

“….menikah, dan punya empat anak.”

Empat anak itu terlalu banyak, konyol sekali. Gumam gadis itu dalam hati, namun tetap tersenyum melanjutkan apa yang ditontonnya.

“Apa kau sudah punya kekasih?”

Kau pasti akan menjawab belum. Ujar gadis itu, lagi-lagi dalam hati karena di sekitarnya banyak teman-temannya.

“Belum…”

Gadis itu tersenyum, tebakannya benar. Dia mendengar teman-temannya bertepuk tangan heboh. Ya mereka senang idola mereka itu belum punya kekasih.

“Lalu dengan siapa kau akan menikah?”

“Nanti pasti akan ada, saat keluar wajib militer nanti aku akan menikahinya.”

Kali ini teriakan terdengar dari segala arah, Jongyoon menutup telinganya, seiring dengan memerahnya wajahnya.

“Yoon, itu skrip. Dan kau membiarkan dirimu percaya selama dua tahun ini?” Jongyoon hanya mengangguk.

“Dia tidak mengatakan apapun padamu bahkan hingga detik ini kan?” lagi-lagi Jongyoon hanya mengangguk.

“Dan kau masih berharap dia akan menikahimu?” Jongyoon menghela nafas panjang, sebelum akhirnya menyandarkan dirinya di sofa, di kafe tempatnya bertemu Yuri, teman dekatnya.

“Tahun ini aku 27 tahun, Yuri…”

“Aku juga? Dan Jongwoon oppa pun tidak pernah membahas masalah pernikahan. Kekasihku bahkan lebih tua dari kekasihmu, Jongyoon.”

Yuri benar. Donghae lebih muda dari Jongwoon oppa.

“Jadi?” Jongyoon menggeleng ragu.

“Aku hanya ingin ke taraf yang lebih serius.”

“Dengan statusnya yang seperti ini? Kita berdua tidak bisa sebebas gadis lain dan kekasihnya.”

Jongyoon mengangguk pelan, dia paham benar perkataan Yuri. Tidak mungkin mereka— dia dan Yuri bisa bebas seperti gadis lain seusia mereka. Gadis yang dengan bebasnya mengunduh foto-foto mesra dengan kekasihnya, yang dengan nyamannya bergandengan tangan saat berjalan berdua dengan kekasihnya. Jongyoon dan Yuri punya cerita berbeda, dan kadang tidak membuat mereka nyaman. Menjadi pacar dari sosok yang dikenal dan dikagumi banyak orang memang tidak mudah. Tidak pernah mudah.

“Aku yakin, Donghae oppa pun sebenarnya ingin ke taraf seperti itu. Aku sebagai fans mereka, sudah kenal bagaimana sifat masing-masing dari mereka. Kau juga kan? Kita berdiri di dekat mereka sejak lama, sebagai fans awalnya dan sekarang kita salah satu orang yang penting di hidup mereka.”

“Cita-citanya tidak pernah berubah sejak pertama kali aku mencintainya sebagai fan, dan aku ingin mewujudkannya, sebagai pacarnya.”

Yuri terkekeh. “Cita-citamu juga sama sepertinya kan?” Jongyoon mengangguk.

“Bersabarlah, kita hanya bisa menunggu kan?”

Lagi-lagi Jongyoon hanya mengangguk, dia memang harus bersabar lagi meski dia selalu memikirkan kata-kata kekasihnya di depan semua orang itu.

***

“Sayang.” Suara khas itu, suara yang selalu Jongyoon nantikan tiap harinya, entah langsung ataupun di seberang sana.

“Eung?” sahut Jongyoon sambil menatap sepasang mata bola yang indah milik kekasihnya itu.

“Kau ingin apa?”

Kening Jongyoon berkerut, melihat itu Donghae langsung menepuk-nepuk keningnya.

“Ya, apa-apaan.” Ujar Jongyoon sedikit merengek.

“Kenapa langsung mengerutkan dahi? Jawab saja sayang.”

“Ingin Lee Donghae.” Jawab Jongyoon sambil tersenyum polos, Donghae dengan gemasnya mengacak rambut kekasihnya tersebut.

“Kau memilikinya, Miss. Sepenuhnya, tanpa terbagi.”

Jongyoon bergedik, namun sambil tertawa. “Terdengar gombal untukku.”

Donghae terkekeh, lalu menatap serius ke wajah Jongyoon.

“I love you.” tiga kata itu meluncur sempurna dari mulut Donghae, dan meski sudah sering mendengarnya selama lima tahun, hati Jongyoon tetap mencelos. Bagaimana tidak, Jongyoon sama sekali tidak pernah menduga sebelumnya kalau dia bisa menjadi seseorang yang penting untuk Donghae, pemuda yang dipujanya sebagai idola.

“Y-yah… kenapa tiba-tiba mengucapkan itu?” Jongyoon mengedipkan matanya beberapa kali sambil terus menatap Donghae.

“Memang tidak boleh?”

“Jantungku, terus berdegup kencang, babo.” Pengakuan Jongyoon membuat Donghae terbahak, dan gadis itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Sudah lima tahun dan masih seperti itu?”

Pertanyaan Donghae itu sukses membuat Jongyoon mendaratkan pukulan ringan di bahunya.

“Jangan menggodaku!”

“Aku merindukanmu…” ujar Donghae sambil merengkuh Jongyoon ke pelukannya dan menjatuhkan tubuh mereka berdua ke atas tempat tidur di kamar apartemen tersebut.

Jongyoon tidak berkomentar apapun, kata-kata Donghae tadi mewakili perasaannya juga. Dia merindukan Donghae, merindukan kekasihnya yang sedang menjalani kewajiban sebagai lelaki Korea.

“Kenapa tidak menjawabku?” Donghae mengecup pipi Jongyoon lembut, membuat sang pemilik tersenyum lebar, wajahnya memerah.

“I miss you, Officernim.” Dengan cepat Jongyoon membalikkan badannya dan memeluk pingang Donghae, menatap wajah kekasihnya lekat-lekat dan Donghae terkekeh senang.

“Berapa bulan lagi?” tanya Jongyoon sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang Donghae.

“Tiga? Kurang dari itu kurasa.” Jongyoon tersenyum, membuat dirinya senyaman mungkin lalu memejamkan matanya.

“Ah joha~ sebentar lagi kau akan sering disini.”

Donghae lagi-lagi terkekeh, mengelus rambut Jongyoon sambil sesekali mencium puncak kepala gadisnya tersebut.

“Besok, dan beberapa hari ke depan mungkin aku tidak bisa pulang.” Donghae membawa Jongyoon lebih dekat dengannya, mengeratkan pelukannya.

“Hm? Aku mengerti, oppa.”

“Tapi…”

“Tapi?” Jongyoon mengulangi kata yang baru diucapkan Donghae.

“Aku akan disini di hari spesialmu.” Pipi Jongyoon bersemu merah mendengar kata-kata yang baru saja diucapkan Donghae, dia hanya mengangguk, tidak menjawab apapun, dirinya terlalu senang hingga tidak tahu harus menjawab apa.

***

Benar saja, Donghae benar-benar tidak pulang beberapa hari setelahnya. Pulang ke apartemen yang mereka sewa berdua, ya sejak 3 tahun yang lalu mereka menyewa sebuah apartemen di pinggir kota, Donghae lebih sering tidur disana bersama Jongyoon daripada di dorm, dan setelah tidak tinggal di dorm lagi bersama Super Junior, Donghae sepenuhnya tinggal di apartemen itu.

“Benar-benar tidak pulang.”

Jongyoon terkekeh sambil merapikan meja kerjanya di kantor. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 5 sore dan ini waktunya Jongyoon pulang ke rumah.

“Yoon, mau makan dulu?”

Jongyoon menimbang-nimbang ajakan Yuri. Biasanya Jongyoon langsung pulang dan memasak untuk Donghae namun kali ini, kekasihnya itu tidak pulang.

“Yuk.” Ujarnya sambil menyambar tasnya dan setengah berlari menghampiri Yuri.

“Donghae oppa tidak pulang?”

“Kalau dia pulang, aku sudah menolak ajakanmu.” Jongyoon terkekeh.

“Kalau dipikir-pikir kenapa kau dan dia seperti suami istri? Pantas saja kau ingin ke taraf itu.” Yuri menyikut bahu Jongyoon pelan sambil tertawa jahil.

“Ya, Han Yuri!” Jongyoon tersenyum menanggapi kata-kata teman satu kantor serta temannya sejak 10 tahun yang lalu itu.

“Ponselmu bergetar.” Ujar Yuri sambil menunjuk tas yang dibawa Jongyoon, gadis itu terkekeh lalu mengambilnya.

“Yoboseyo, oppa?”

“Kau sedang apa?”

“Ah aku baru saja keluar kantor, dan ingin makan bersama Yuri.”

AAACHOO!

“Lho kau sakit sayang?”

Terdengar kekehan di ujung telepon sana. “Ah, susah sekali untuk di sembunyikan.”

“Ya, Donghae oppa. Apa sudah minum obat?”

“Tenang saja Yoon, hanya flu ringan.”

“Eish, tidak ada kata ‘hanya’, minum obatmu.”

“Galak sekali.”

“Biar, kalau tidak galak oppa itu bandel.”

“Aku kan bukan anak kecil, Jongyoon-ah!”

Jongyoon terkekeh pelan. “Tapi kau bahkan lebih susah diatur dari anak kecil, Lee Donghae.”

“Arraseo arraseo, aku akan minum obatku sehabis ini.”

“Benar ya? Jangan coba-coba bohong padaku.”

“Iya sayangku, percayalah.”

Jongyoon terdiam sesaat, menghela nafas. “Oppa…”

“Eung?”

“Aku tidak bisa ada disana sekarang, dan dirimu pun tidak bisa pulang. Jadi aku mohon oppa perhatikan kesehatanmu. Tugasmu berat, kan? Aku tidak ingin oppa sakit, terlebih jika tidak ada aku disampingmu.”

Jongyoon masuk ke mobilnya sendiri, memasang seat-belt sementara Yuri sudah duduk di sampingnya menunggu Jongyoon menghidupkan mesin mobilnya.

“Jongyoon-ah…”

“Eung?”

“Saranghae…”

Jongyoon tersenyum tipis. “Aku juga mencintaimu, oppa. Sudah ya? Aku mau menyetir, dan kau tahu kan aku tidak suka menyetir sambil menelpon.”

“Ne, Jongyoon-ah. Hati-hati, arraseo? Terima kasih, suaramu saja sudah bisa membuat aku merasa lebih baik disini.”

“Aku sungguh sayang padamu, oppa.”

“Aku tahu, sekarang fokuslah menyetir okay? Aku harus menemui pimpinanku sebentar lagi.”

“Eung oppa, annyeong!”

***

Jongyoon duduk memeluk boneka teddy bearnya, dia sendirian di apartemen malam ini. Dan dengan bodohnya memutuskan untuk menonton film horor.

“Hng…..” Jongyoon mengigit bibirnya, menutupi setengah wajahnya dengan boneka tersebut saat layar televisi menunjukkan wajah sang hantu.

“KYAAAAA!” teriak Jongyoon saat suara musik menyeramkan terputar di film yang dia tonton.

Jongyoon memang sangat penakut namun dia penasaran ingin menonton semua film horor yang sedang ramai dibicarakan teman-temannya. Jongyoon menoleh kanan-kirinya, biasanya ada Donghae yang bisa dia peluk saat menonton film horor. Kali ini Jongyoon benar-benar sendirian. Sendirian, mengulang kata itu membuat semua bulu kuduk Jongyoon berdiri. Dia dengan cepat mematikan televisi, kemudian berjalan cepat masuk ke kamarnya.

“KYAAAAA!!!!!” teriaknya, lebih kencang sesaat setelah semua lampu di apartemennya padam.

“Eomma! Appa! Oppa! Aku takut.” Jongyoon berlari keluar kamarnya, menuju ruang tamu dan mencari senter.

Jongyoon belum juga menemukan yang dia cari, sangat gelap, dia tidak bisa melihat apapun, tangannya terus sibuk mencari ketika dia dikejutkan dengan suara televisi yang tiba-tiba hidup sendiri.

“MWOYAAAAAA??!” Jongyoon berteriak frustasi, dia ingin berlari namun terhenti ketika yang terputar di layar televisi itu bukanlah film horor yang ditontonnya.

“Lalu dengan siapa kau akan menikah?”

“Nanti pasti akan ada, saat keluar wajib militer nanti aku akan menikahinya.”

Jongyoon terdiam di tempatnya. Video ini, yang ditontonnya 2 tahun yang lalu saat Donghae belum masuk wajib militer. Video yang membuatnya terus menanti Donghae untuk melamarnya.

“Happy birthday to you~ happy birthday to you~ happy birthday~ happy birthday~ happy birthday to you~”

Jongyoon kenal benar suara ini, suara yang sangat khas. Suara yang sangat disukai Jongyoon sejak 7 tahun yang lalu.

“Donghae oppa?” bersamaan dengan itu semua lampu di apartemen kembali hidup dan Jongyoon terperangah melihat Donghae sudah ada di hadapannya, membawa kue kecil, memakai setelan jas, lengkap dengan dasi. Kekasihnya itu membawa kotak sedang di tangannya yang lain.

“A- a…apa yang kau lakukan disini?” tanpa Jongyoon sadar, pipinya sudah basah oleh airmata.

Donghae mendekati Jongyoon, meletakkan kue dan kotak yang dipegangnya di meja lalu memeluk kepala Jongyoon, menciumnya.

“Happy Birthday, sweetheart. Jangan tunjukkan aku airmatamu, tunjukkan aku senyummu.”

Jongyoon memukul pundak Donghae pelan. “Kau benar-benar…”

Donghae melepaskan pelukannya lalu mengelus pipi Jongyoon sambil menyeka airmata yang membasahi pipi gadisnya. Sesaat setelahnya dia meraih kotak sedang yang dipegangnya tadi, menyerahkannya ke Jongyoon sambil tersenyum.

“Pakailah…”

Sebuah gaun sederhana berwarna hijau muda terpampang di hadapan Jongyoon, membuat gadis ini tertegun.

“Kapan kau menyiapkan semua ini? Sungguh, polisi ini memanfaatkan waktu luangnya dengan baik.”

Donghae terkekeh, mengacak rambut Jongyoon gemas. “Aku tunggu disini, hm? Cepatlah ganti pakaianmu.”

“Arraseo oppa!” Jongyoon setengah berlari, sambil membawa gaun yang didapatnya dari Donghae tadi.

“Kau berani sendiri?”

Jongyoon berhenti berlari, diingatnya adegan yang ditontonnya tadi di film horor, dirinya bergedik ngeri dan langsung kembali berlari ke arah Donghae.

“Anniya, temani aku, eung? Juseyo?”

Donghae terbahak, ditepuk-tepuknya kepala Jongyoon. “Sungguh, Jongyoon. Siapa yang menyuruhmu menonton film horor saat aku tidak ada disini?”

“Hngg, itu….” Jongyoon mengigit bibirnya. “Aku penasaran…”

Donghae masih tertawa, namun tangannya bergerak meraih tangan Jongyoon lalu mengajak gadisnya itu berjalan ke kamarnya.

“Gantilah, aku tidak mungkin menemanimu sampai kamar mandi kan?” Donghae tersenyum jahil, Jongyoon melemparnya dengan bantal.

“Pervert!” Jongyoon membawa gaunnya masuk ke dalam kamar mandi dan beberapa menit kemudian dia keluar memakai gaun tersebut.

“W…wo…ah…” Donghae tidak mempercayai penglihatannya sendiri, Jongyoon sangat cantik memakai gaun itu.

“Jangan menatapku seperti itu, babo.” Jongyoon mendekati Donghae, menghalangi pandangan pemuda itu dengan kedua telapak tangannya.

Donghae tertawa, menyingkirkan tangan Jongyoon lalu  menggandengnya berjalan keluar kamar, keluar rumah menuju lobi utama apartemen kemudian berjalan lagi hingga mencapai taman di belakang apartemen yang mereka tempati tersebut.

“Kita mau apa disi—“ ucapan Jongyoon terhenti ketika melihat apa yang ada di taman yang setiap hari dia lihat saat berangkat dan pulang kerja ini.

“Oppa! Come on, kau ini benar-benar…” Jongyoon menatap pemuda di sampingnya yang hanya tersenyum.

Di hadapan Jongyoon sekarang, ada sebuah kursi panjang dan ada gitar di ujung kursi tersebut, serta lilin kecil yang mengelilinginya. Donghae menggandeng Jongyoon, mendekati kursi tersebut lalu keduanya duduk disana. Donghae meraih gitar yang sejak awal mencuri perhatian Jongyoon. Donghae tahu, Jongyoon sangat suka saat Donghae bermain gitar.

“Katakan padaku, lagu apapun yang mau kau dengar malam ini.”

“Ya, Lee Donghae, kuperingatkan, ini jam 12 malam.”

Jongyoon tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya melihat Donghae memegang gitar, Donghae tahu hal itu dan dia tidak peduli dengan kata-kata yang dilontarkan Jongyoon barusan. Dia mulai menjetikkan jarinya diatas senar-senar gitar, sebuah melody terdengar.

“Baby baby baby baby, let’s never break up. Oh my lady lady lady, I love you so much.”

Jongyoon tersenyum mendengar suara Donghae melantun berirama dengan suara gitar yang dipetiknya. Jongyoon benar-benar menyukai ini, sangat, dia suka suara Donghae dan dia suka permainan gitar Donghae.

“Kim Jongyoon, malam ini, yang kau bilang jam 12 malam. Malam ini, disaksikan langit malam, dan juga gitar yang kupegang, kursi yang kita duduki, aku… Lee Donghae, hanya akan mengatakan ini sekali.”

Jantung Jongyoon berdegup kencang mendengar kata-kata yang mengalir dengan lancarnya dari bibir Donghae. Jongyoon tidak sanggup membayangkan apa jadinya dirinya beberapa menit kemudian, jantungnya benar-benar berolahraga sekarang.

Pyungsaeng gyeoltae isseulkae I do~ nal saranghaneun geol~ I do~” dipetiknya gitar yang dipeluknya lagi, mata pemuda itu terpejam, jantung Jongyoon semakin rajin berolahraga.

“Nawa kyeoronaejullae?… I do~” Donghae mengakhiri permainan gitarnya, dan lagunya, dari ujung tangannya yang baru selesai memetak gitar itu menjuntai kalung panjang dengan cincin sebagai liontinya.

Jongyoon terpaku di tempatnya. Tidak mampu mengatakan apapun, tidak bisa mengekspresikan apapun. Semuanya terlalu indah, sangat indah. Jongyoon tidak mempercayai matanya dan telinganya saat ini.

“Kau tahu? Yang kuucapkan di acara televisi waktu itu, tidak ada dalam script. Dan, aku benar-benar menyatakan niatku disitu. Setelah itu, aku pikir aku tidak bisa mengulangnya di hadapanmu, apalagi saat itu aku akan pergi selama dua tahun. Jadi, baru saat ini, di hari spesialmu, aku ingin mengatakannya.”

Tanpa berkata apa-apa, Jongyoon menghambur ke pelukan Donghae, airmatanya mengalir begitu saja, airmata bahagia. Donghae terkekeh pelan, dielusnya pipi Jongyoon dan dihapusnya airmata di pipinya.

“Would you marry me, Kim Jongyoon?” bisik Donghae lembut tepat di telinga Jongyoon, sang pemilik pun mengangguk pasti.

“I do, oppa.”

-kkeut-

 

Hahahahahaha why. I miss Donghae, and my birthday is coming so…. haha why am I laughing at myself.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s