Don’t Leave Me

Don’t Leave Me

 

dont-leave-me-poster

Cast : Lee Donghae | Kim Jongyoon

Genre : Angst

Length : Oneshot

Namaku Lee Donghae, dan aku berharap segala yang terjadi padaku, pada perjalanan cintaku adalah mimpi. Aku berharap ini semua mimpi buruk, dan seseorang akan membangunkanku disaat aku sudah tidak sanggup menanggungnya lagi.

“Oppa, kau dimana?”

Gumam gadis kurus berambut hitam yang sejak dua jam yang lalu berdiri di depan halte bus, berkali-kali memeriksa jam tangan yang dipakainya. Gadis itu, menunggu seseorang.

Tap. Tap. Tap.

Terdengar langkah kaki, cukup cepat, membuat gadis itu menoleh. Seseorang yang ditunggunya sudah datang.

“Jongyoon-ah, mianhae, jeongmal…”

“Aku sudah dua jam menunggumu disini, oppa.” Jawabnya dengan nada kecewa.

“Maaf, aku harus rapat tadi, maaf tidak memberimu kabar.”

Pemuda dengan setelan jas lengkap itu baru saja ingin meraih tangan gadis dihadapannya ketika ponselnya berdering. Sang gadis menghela nafas berat.

“Ye? Ah ye, sajangnim. Aku segera kembali.”

“Jongyoon-ah…”

“Eung?”

“Aku harus kembali ke kantor.”

Gadis itu diam saja, terlihat sudah sangat kecewa. Ponsel pemuda di hadapannya kembali berdering.

“Iya, aku segera kesana.” Pemuda itu menatap gadisnya sesaat dan dengan cepat meninggalkannya, berlari kembali ke kantor.

Aku tidak tahu, apa yang terjadi padanya setelah itu, aku sungguh bodoh. Aku meninggalkannya begitu saja, meninggalkan kekasihku, yang selalu setia menungguku, selalu menjadi sumber kekuatanku, selalu menjadi sandaranku, dia yang mengisi hatiku. Jongyoon, gadis itu, tidak pernah lagi menghubungiku setelah itu. Sudah dua minggu berlalu sejak malam aku meninggalkannya dan memilih pekerjaanku. Selama dua minggu, aku bahkan tidak tahu apa yang kulakukan. Seperti mayat hidup, itu yang teman-temanku katakan.

“…lalu tiba-tiba temanku berteriak saat hantu itu muncul di layar. Sungguh lucu, dia sampai menangis!” gadis itu bercerita dengan semangat, sesekali diia memperagakan apa yang terjadi dengan tangannya.

“Dan kau tau oppa? Saat malam hari, dia bilang dia tidak bisa tidur dan meminta kami datang ke rumahnya.” Gadis itu tertawa sambil menepuk tangannya sesekali.

“Dia sungguh lucu, padahal dia yang meminta menonton film itu. Aku heran kenapa dia sen—“

Ucapannya terhenti ketika dilihatnya pemuda di hadapannya terus menguap dan beberapa kali memejamkan mata.

“Kau tidak mendengarkanku…” gumamnya kecewa.

Aku mengacak rambutku frustasi, kenapa aku baru sadar kalau selama ini aku sering mengecewakannya. Aku sering membuatnya sedih. Namun aku tidak pernah sama sekali membuatnya merasa lebih baik, yang aku lakukan hanya meminta maaf dan mengulanginya.

“Ini hari minggu, oppa. Kita sudah jarang bertemu, karena oppa selalu sibuk, lalu—“

“Kau tidak suka aku sibuk?” gadis itu tersentak, nada bicara pemuda yang dipanggilnya oppa itu terdengar ketus.

“Bukan begitu oppa, aku—“

“Bukankah kau dulu yang mendorongku untuk bekerja seperti ini?”

“Oppa, dengarkan aku du—“

“Sudahlah…”

Tuut… tuut…

Pemuda itu mengakhiri sambungannya di telepon.

Sungguh bodoh, Jongyoon tidak pernah berhenti mendukungku, mengerti kesibukanku, dia hanya mengeluh sekali, setelah sekian kali aku mengabaikannya dan memilih pekerjaan. Namun apa yang kulakukan? Membuatnya sedih, lagi dan lagi.

“Oppa, ada apa kesini?” lamunanku buyar, seseorang menyapaku yang sejak tadi hanya duduk di lobby sebuah kantor, termenung, memikirkan Jongyoon.

“Heesa, apa—“

“Jongyoon unnie?” tebak gadis yang tadi menyapaku, aku mau tidak mau hanya mengangguk pelan.

“Seminggu yang lalu, Jongyoon unnie resign.”

Aku menghela nafas frustasi. Aku terlambat.

“Resign? Lalu?”

Heesa menggeleng. “Aku tidak tahu sekarang unnie dimana. Setahuku, dia juga keluar dari rumahnya yang lama. Sewanya habis, dan dia sengaja tidak melanjutkan.”

Mendengar penjelasan Heesa, aku hanya menunduk sedih. Sungguh, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang. Aku merindukannya.

“Oppa, kau tahu?” aku menatap Heesa, menunggunya berbicara lagi.

“Jongyoon unnie terlihat sangat murung semnggu sebelum dia pergi dari kantor ini.”

Kata-kata Heesa lebih terdengar seperti sindiran untukku. Donghae, kau penyebabnya.

“Dia tidak cerita appa-apa padamu?”

Heesa menggeleng. Entah kenapa ada perasaan lega menyelimutiku, setidaknya, hanya aku dan dia yang tahu masalah kami.

“Geurae, Heesa, aku pergi dulu. Terima kasih sudah menjelaskannya padaku.” Ujarku sambil melambaikan tangan padanya dan segera menuju mobilku yang keemudian sudah meluncur di jalanan kota Seoul.

“Oppa~ ingat tempat ini? Pertama kali kita bertemu!”

Aku mendengar dengan jelas suara Jongyoon, seperti kembali ke masa-masa awal kami berpacaran. Jongyoon ingat setiap detail tentang hubungan kami, tempat kami bertemu, tempat aku menyatakan perasaanku, tempat kencan pertama kali. Aku dulu sangat senang mendengarkan ocehannya tiap kali kami melewati tempat-tempat itu. Sekarang, aku sendirian di mobilku  ini, menatap setiap tempat yang aku lewati dan mendengar suara Jongyoon yang seperti terputar terus-menerus di kepakaku.

“Aku sudah gila.” Gumamku ketika aku melihat sosok gadis yang sedang kupikirkan saat ini.

Aku berkali-kali menggeleng, mempertegas tatapanku dan akhirnya aku sadar kalau aku memang melihat Jongyoon. Berdiri di depan sebuah toko, terlihat membagikan kertas yang masih banyak di tangannya.

“Tsk. Ada apa dengan bajumu? Ini sudah musim gugur.” Aku mendecak sebal melihat apa yang dipakainya, kaus lengan panjang tipis, rok pendek, tanpa jaket.

Aku memakirkan mobilku agak jauh dari tempat aku melihat Jongyoon. Aku baru sadar aku sudah keluar jauh dari Seoul, ini sudah di perbatasan.

“Silahkan coba, hari ini sedang diskon!” aku mendengar suaranya, bergetar, dia kedinginan.

“Tuan, nyonya, cobalah menu baru kami!” aku ingin sekali kesana, menutupi tubuhnya dengan jaket yang sekarang aku kenakan.

Aku mendengarnya bersin, sesekali dia menyeka hidungnya, lalu mengusap-usap lengannya sendiri namun dia terus menerus membagikan kertas yang ditangannya. Aku membaca plang yang terpampang di toko itu. Sebuah toko roti kecil, yang bisa dibilang sepi.

“Apa yang kau lakukan disini, Yoon?” gumamku pelan.

Aku terus memperhatikan gadis itu, gadis yang sampai detik ini masih kuanggap milikku meskipun kenyataanya dia tak beda dengan orang asing, tidak pernah menghubungiku, dan menghilang tanpa jejak.

“Donghae oppa…” aku tersentak mendengar dia menyebut namaku.

Sudah kepalang basah, aku tidak bisa menghindarinya. Aku hampiri dia perlahan, aku tidak bisa menatapnya sama sekali, aku tidak punya keberanian.

“Kau, tahu darimana aku disini?” suaranya terdengar lebih pelan, dan masih bergetar.

“Hanya berjalan, tanpa sadar aku disini dan melihatmu. Apa yang kau lakukan disini?”

Sunyi. Jongyoon tidak menjawab, dan aku tidak berniat melontarkan pertanyaan apapun lagi. Sedetik kemudian terdengar suara batuk dari Jongyoon, tanpa sadar aku menghela nafas. Aku khawatir padanya.

“Oppa, ayo masuk, disini dingin.” Ujarnya pelan, aku pun mengikutinya berjalan masuk ke toko roti itu.

Aku tidak berkata apapun lagi, seementara itu Jongyoon berjalan ke dapur, mengambilkanku air mineral lalu kembali menghampiriku tanpa suara.

“Kenapa kau resign?” kuberanikan diri untuk bertanya lagi.

“Kenapa oppa disini?” tanyanya, nadanya terdengar dingin.

Klek.

Belum sempat aku menjawab, pintu toko terbuka dan segerombolan anak sekolah masuk. Jongyoon setengah berlari mengampiri mereka, lalu terlihat sibuk menjelaskan produk roti yang tersedia di toko. Aku samar-samar bisa mendengar percakapan mereka.

“Ne?? Sebanyak itu?”

“Iya, kami butuh banyak untuk teman-teman kami.”

“Sebentar, kalau yang kalian minta memang sebanyak itu, kami rasa kami bisa. Stok kami hari  ini cukup banyak.”

“Kalau begitu bungkus semua.”

Aku tersenyum melihat Jongyoon terlihat senang, setengah berlari dia mengambil semua roti yang diinginkan segerombolan anak sekolah tadi, dan segera dia bungkus. Tak lama mereka keluar toko dengan membawa banyak bungkusan. Jongyoon, seperti tidak ada aku disini, membersihkan etalase tempat roti-roti tadi diletakkan, lalu membawa loyang-loyang kotor ke belakang untuk dicucinya.

Praaang!!

Aku masih tersenyum ketika detik selanjutnya aku mendengar suara itu. Aku berlari panik, kulihat Jongyoon sedang menunduk, berpegangan pada wastafel di depannya.

“Gwaenchana?” tanyaku sambil memegang lengannya, aku sedikit tersentak ketika dia menepis tanganku.

“Gwaenchanayo.” Ujarnya singkat, terlihat kewalahan berdiri, memegangi kepalanya.

“Yoon-ah…”

“Aku baik-baik saja.” Ujarnya sambil menunduk, mengumpulkan pecahan piring yang tadi jatuh.

“Pulanglah, aku masih harus bekerja.”

Aku menggeleng. Tidak, aku tidak akan meninggalkannya dalam keadaan seperti ini.

“Yoon, please…”

“AKU TIDAK INGIN BICARA DENGANMU.” Aku benar-benar kaget dengan teriakannya.

“Jongyoon-ah…” aku memengangi tangannya ketika dia kesusahan berdiri, untuk membuang pecahan piring yang dipungutinya tadi.

Tanpa bicara apapun, dia menepis tanganku lagi. Aku menghela nafas berat, apa yang sudah aku lakukan padanya, kenapa gadisku menjadi seperti ini.

“Istirahatlah, kau terlihat pucat.”

“PERGI.” teriaknya lagi, aku menggeleng, aku tidak mau meninggalkannya.

Aku berdiri dihadapannya, kutatap matanya, matanya itu berkaca-kaca, hatiku sakit melihatnya.

“Maafkan aku…”

Jongyoon masih diam, masih menunduk, tidak menatapku.

“Aku, memang egois, Yoon-ah…”

Dia masih diam, tidak menjawabku.

“Kau boleh hukum aku, pukul aku, tapi kumohon jangan usir aku.”

“Kau—“ hanya itu yang terdengar sebelum dia terhuyung dan jatuh ke pelukanku.

“Jongyoon-ah…” kuelus rambutnya dan kugendong dia, untuk kubawa ke mobilku, aku harus membawanya ke rumah sakit.

##

Sudah tiga jam, Jongyoon masih belum sadarkan diri. Aku memegangi tangannya, kuelus perlahan.

“Maafkan aku…” gumamku sambil mengelus rambutnya lembut.

Aku tidak menyangka akan bertemu dengannya dalam keadaan seperti ini. Namun, ada sedikit perasaan lega menyelimutiku. Jongyoon disini bersamaku sekarang, aku tidak akan menyia-nyiakannya lagi.

“Hmh…” kudengar suaranya, kutatap dirinya.

“Jongyoon-ah, syukurlah!” aku mencium tangannya yang kugenggam.

Jongyoon menatapku sesaat lalu melepaskan tangannya dari genggamanku.

“Kenapa aku disini, aku mau pulang.” Jongyoon dengan paksa mencabut infus yang terpasang di tangannya, lalu berdiri namun usahanya itu sia-sia, dia terhuyung.

“Kumohon, dengarkan aku. Tetaplah disini sampai kau merasa lebih baik. Kau itu sudah pingsan selama tiga jam. Jangan paksa dirimu.” Ujarku tegas, aku sungguh tidak mau dia seperti ini.

Jongyoon menunduk, bahunya mulai bergetar, dia terisak. Hatiku rasanya seperti teriris-iris melihat airmatanya. Jongyoon-ku menangis.

“Oppa…” persis seperti magnet, dia perlahan mendekatiku dan memelukku erat, aku mengelus rambutnya.

“Jongwoon oppa, tiba-tiba menghilang. Peemilik toko menghubungiku, mereka bilang, belum bayar sewa toko. Aku sungguh tidak tahu apa yang harus aku lakukan, aku tidak punya pilihan, aku resign, aku gunakan uang sewa rumah untuk membayar sewa toko, namun itu masih kurang. Aku—“

“Ssst, sudah, jangan dilanjutkan, sudah sudah…” aku memotong omongannya. Aku tidak sanggup lagi mendengarnya.

Aku sudah tahu, sejak dulu, Jongwoon—kakak laki-laki Jongyoon ini selalu menyusahkan adiknya. Mereka berdua punya usaha, menjalankan sebuah toko roti, melanjutkan apa yang orang tua mereka jalani sebelumnya. Aku sendiri tidak tahu dimana toko itu, sampai hari ini aku baru melihatnya. Jongwoon punya sifat buruk, hobi main lotre, judi, mabuk-mabukan. Uang sewa toko, selalu digunakannya untuk berfoya-foya seperti itu.

“Itu sebabnya kau ada disini? Hm?” Jongyoon mengangguk.

“Sungguh maafkan aku, aku benar-benar tidak bisa diandalkan, hanya bisa membuatmu sedih, membuatmu lebih tertekan.” Kulepaskan pelukanku, lalu aku menunduk, perasaanku sangat kacau saat ini.

Jongyoon terdiam, masih kudengar isakannya. Dan kau tahu rasanya? Tiap isakan itu mewakili satu jarum di hatiku, rasanya sakit, jarum itu terus menerus menghantamku.

“Aku membuat hidupmu susah, ya kan? Sementara dirimu, selalu membuatku bahagia, selalu membuatku nyaman, selalu menyemangatiku.”

Jongyoon semakin terisak. Dari tangisannya, aku merasa aku melukainya terlalu dalam.

“Aku sungguh bodoh. Tapi, si bodoh ini, sudah menyadari kebodohannya. Maafkan aku, Jongyoon-ah…”

Tanpa sadar, aku merasa pipiku hangat, cairan itu, mengalir begitu saja. Ya, aku menangis.

“O…ppa…” panggilnya pelan, aku masih menunduk.

“Jangan tinggalkan aku, Jongyoon-ah…”

Kurasakan tangan Jongyoon memukul dadaku pelan, masih kudengar isakannya.

“Aku tidak pernah berniat meninggalkanmu, oppa. Tidak pernah ada niat seperti itu, neo baboya.” Terus dipukulinya diriku, sekarang dia memukuli pundakku.

“Aku mencintaimu, aku menyayangimu. Aku—“ ucapannya terhenti karena aku langsung memeluknya erat.

“Don’t leave me, Jongyoon-ah…” Jongyoon memelukku erat, masih terisak, tapi aku tahu, dia sudah memaafkanku dan tidak akan pernah meninggalkanku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s